Ka BKD: Komposisi Sudah Gemuk, Pemprov Riau Tidak Rekrut PNS Baru Tahun Ini Rabu, 10/06/2026 | 15:40
Kepala BKD Riau Budi Fakhri
Berkabarnews.com, Pekanbaru - Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Riau, Budi Fakhri, menjelaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau tidak membuka rekrutmen atau penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS) baru pada tahun ini, karena komposisi jumlah aparatur sipil negara (ASN) yang aktif bekerja di lingkungan Pemprov Riau saat ini sudah tergolong sangat gemuk.
Menurutnya, lonjakan drastis jumlah pegawai di internal pemerintah daerah merupakan implikasi langsung dari kebijakan terdahulu. Pemprov Riau sebelumnya telah meloloskan dan mengangkat tenaga Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dalam gelombang kuota yang sangat besar selama beberapa periode terakhir.
“Untuk tahun ini, Pemprov Riau dipastikan tidak akan melakukan rekrutmen PNS baru terlebih dahulu. Langkah ini harus diambil karena saat ini jumlah total pegawai di lingkungan pemerintah provinsi sudah terhitung cukup banyak dan padat,” kata Budi Fakhri saat memberikan keterangan resmi di Pekanbaru, Rabu (10/6/2026).
Budi memaparkan, selain faktor kepadatan jumlah personel, alasan utama di balik penghentian sementara rekrutmen ini adalah terkait beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Saat ini, porsi kebutuhan untuk belanja gaji dan tunjangan pegawai di lingkungan Pemprov Riau posisinya telah membengkak dan melebihi angka batas aman 30 persen dari total anggaran keuangan.
Kondisi fiskal yang tertekan tersebut memaksa tim anggaran daerah melakukan pengetatan sedini mungkin agar roda pembangunan infrastruktur publik tidak mandek.
“Mempertimbangkan kondisi kesehatan keuangan daerah saat ini, kebijakan yang paling rasional adalah tidak menambah beban lewat rekrutmen pegawai baru,” katanya.
Berdasarkan regulasi undang-undang terbaru, pemerintah pusat mewajibkan seluruh pemerintah daerah agar menekan angka belanja pegawai mereka maksimal di angka 30 persen, yang ditargetkan mulai berlaku secara serentak per tanggal 1 Januari 2027 mendatang.
Kendati target pengetatan anggaran tersebut sudah di depan mata, kata Budi, pihak pusat nyatanya masih memberikan ruang relaksasi bagi daerah-daerah yang sedang berjuang melakukan penyesuaian, karena mayoritas pemerintah daerah di Indonesia, termasuk Provinsi Riau, terdeteksi masih berada di zona merah atau belum mampu menyelaraskan postur APBD mereka sesuai mandat juknis tersebut.
Budi Fakhri menambahkan bahwa opsi pemberian kelonggaran waktu atau relaksasi fiskal ini telah menjadi pembahasan serius yang digodok secara intensif di tingkat lintas kementerian.**/ian